Long dan Short dalam CFD: Cara Trading di Pasar yang Naik dan Turun

Ketika investor membeli saham, logikanya sederhana: jika harganya naik, mereka dapat memperoleh keuntungan; jika turun, mereka mengalami kerugian. Dengan CFD, trader dapat membuka posisi dengan memperkirakan pasar akan naik maupun turun.

Ketika investor membeli saham, logikanya sederhana: jika harganya naik, mereka dapat memperoleh keuntungan; jika turun, mereka mengalami kerugian. Dengan CFD, trader dapat membuka posisi dengan memperkirakan pasar akan naik maupun turun.

Jika trader memperkirakan harga akan naik, mereka membuka posisi long — posisi beli (Long). Jika memperkirakan penurunan, mereka membuka posisi short, atau posisi jual (Short). Tidak perlu membeli aset itu sendiri: hasilnya bergantung pada pergerakan harga antara pembukaan dan penutupan transaksi.

Apa Itu Posisi Long

Posisi long adalah transaksi yang dibuka dengan mengantisipasi kenaikan harga.

Trader membuka long CFD position jika mereka yakin harga aset dasar akan naik. Misalnya, harga saham saat ini adalah 100 $, dan setelah beberapa waktu mungkin naik menjadi 110 $.

Jika harga naik, selisih antara harga pembukaan dan penutupan transaksi akan menghasilkan keuntungan bagi trader. Jika pasar bergerak turun, akan terjadi kerugian.

Sekilas, semuanya terlihat mirip dengan membeli saham dengan cara biasa. Namun, ada perbedaan penting: ketika trading CFD, trader tidak menjadi pemilik saham itu sendiri.

Kami membahas hal ini secara lebih rinci dalam artikel CFD vs Saham.

Cara Kerja Pembelian CFD

Untuk membuka posisi long, trader memilih operasi beli.

Namun, membeli CFD dan membeli aset itu sendiri bukanlah hal yang sama. Trader tidak membeli saham, minyak, emas, atau aset lainnya secara langsung. Mereka membuka kontrak yang hasilnya bergantung pada pergerakan harga.

Misalkan kuotasi terlihat seperti berikut:

  • harga jual — 99,90 $;
  • harga beli — 100 $.

Posisi long biasanya dibuka pada harga beli — dalam contoh kita, pada 100 $.

Untuk keluar dari transaksi, trader harus melakukan operasi sebaliknya — menjual CFD. Transaksi akan ditutup pada harga jual saat ini.

Selisih antara harga beli dan harga jual disebut spread. Oleh karena itu, segera setelah dibuka, transaksi dapat menunjukkan hasil negatif sebesar spread, meskipun pasar hampir tidak bergerak.

Untuk informasi lebih lanjut tentang cara kerja CFD secara umum, lihat artikel CFD Demystified.

Contoh Transaksi Long

Contoh posisi long CFD

Posisi long hanya akan menguntungkan jika pergerakan harga mampu menutupi biaya trading.

Apa Itu Posisi Short

Posisi short dibuka dengan mengantisipasi penurunan harga.

Misalkan harga saham adalah 100 $, dan trader memperkirakan harga akan turun menjadi 90 $. Dalam hal ini, mereka membuka short CFD position.

Jika harga turun, posisi dapat ditutup pada harga yang lebih rendah sehingga menghasilkan keuntungan dari selisihnya. Jika harga naik, akan terjadi kerugian.

Hal ini sering menimbulkan pertanyaan yang sangat masuk akal: bagaimana mungkin menjual sesuatu yang tidak Anda miliki?

Cara Kerja Penjualan CFD

Ketika menjual CFD, trader tidak menjual saham atau aset lain yang mereka miliki.

CFD adalah kontrak untuk selisih harga. Oleh karena itu, transaksi short dapat langsung dibuka tanpa harus membeli aset dasar terlebih dahulu.

Untuk memahami cara membuka posisi short menggunakan CFD, cukup ingat satu hal: posisi dibuka dengan menjual CFD dan ditutup melalui transaksi sebaliknya — membeli. Misalkan kuotasi terlihat seperti berikut:

  • harga jual — 100 $;
  • harga beli — 100,10 $.

Posisi short biasanya dibuka pada harga jual. Jika pasar kemudian turun, posisi ditutup melalui transaksi sebaliknya — pada harga beli saat ini.

Tidak perlu membeli atau menjual aset dasar itu sendiri.

Contoh Transaksi Short

Contoh posisi short CFD

Dengan demikian, pada posisi short, penurunan harga menguntungkan trader, sedangkan kenaikan harga merugikan mereka.

Bagaimana Posisi Long dan Short Ditutup

Arah transaksi penting bukan hanya saat membukanya, tetapi juga saat menutupnya. Posisi long ditutup dengan operasi sebaliknya — menjual CFD. Sebaliknya, posisi short ditutup dengan membeli.

Operasi yang sama dapat berfungsi secara berbeda di sini. Membeli dapat membuka posisi long atau menutup posisi short. Menjual dapat membuka posisi short atau menutup posisi long.

Namun, aset dasar itu sendiri tetap tidak menjadi milik trader.

Misalkan posisi short dibuka pada 100 $, kemudian harga turun menjadi 94 $. Untuk merealisasikan keuntungan, posisi ditutup melalui transaksi sebaliknya.

Selisih antara 100 dan 94 $ akan menghasilkan keuntungan sebelum memperhitungkan spread, komisi, dan biaya lainnya.

Jika posisi tidak ditutup, hasilnya akan terus berubah mengikuti pasar. Harga dapat turun lebih jauh dan meningkatkan keuntungan posisi short, atau berbalik arah dan mulai naik. Dalam hal tersebut, keuntungan akan berkurang, atau posisi bahkan dapat berubah menjadi kerugian. Selama transaksi tetap terbuka, hasilnya belum direalisasikan.

Bisakah Anda Mengubah Arah Transaksi

Terkadang, setelah membuka transaksi, trader mengubah pandangannya terhadap pasar. Misalnya, mereka membuka posisi long dengan memperkirakan kenaikan harga. Namun kemudian laporan perusahaan yang lemah dirilis, harga mulai turun, dan sekarang trader yakin penurunan akan berlanjut.

Anda tidak dapat begitu saja mengubah posisi long yang sudah ada menjadi posisi short. Pertama, Anda perlu menutup posisi long, kemudian, jika diperlukan, membuka posisi baru — kali ini posisi short. Hal yang sama berlaku untuk posisi short: jika trader sekarang memperkirakan kenaikan, posisi lama ditutup dan posisi baru dibuka.

Transaksi baru akan memiliki harga pembukaan yang berbeda. Keuntungan atau kerugian dari transaksi sebelumnya sudah direalisasikan pada saat itu.

Namun, sering mengubah arah juga tidak gratis: setiap pembukaan dan penutupan melibatkan spread, komisi, dan kemungkinan biaya lainnya.

Short Selling CFDs vs Short Selling Saham: Apa Perbedaannya

Baik short selling CFD maupun short selling saham tradisional memungkinkan trader memperoleh keuntungan dari penurunan harga. Namun, mekanismenya berbeda.

Dalam short selling tradisional, investor biasanya menjual saham yang awalnya tidak mereka miliki. Sekuritas dipinjam melalui broker, kemudian harus dibeli kembali dan dikembalikan. Jika saham dapat dibeli kembali dengan harga lebih rendah daripada harga jualnya, selisih tersebut dapat menjadi keuntungan. Jika harganya naik, terjadi kerugian.

Dengan CFD, tidak perlu meminjam aset dasar. Ketika melakukan short selling CFD, trader tidak menerima saham atau menjualnya di pasar. Sebaliknya, mereka hanya membuka kontrak berdasarkan pergerakan harga.

Misalnya:

  • dalam short selling tradisional, trader dapat meminjam dan menjual 10 saham;
  • ketika melakukan short selling CFD, mereka membuka transaksi berdasarkan pergerakan harga 10 saham yang sama, tetapi tidak memiliki sekuritas tersebut.

CFD tidak memberikan hak pemegang saham, seperti hak suara. Trader tidak menerima dividen aktual, tetapi ketentuan kontrak dapat mengatur penyesuaian dividen.

Dalam short selling tradisional, sekuritas yang diperlukan harus terlebih dahulu tersedia untuk dipinjam. Dengan CFD, semuanya bergantung pada ketentuan broker: untuk beberapa instrumen, broker dapat membatasi posisi short atau mengubah persyaratan margin.

Komisi juga berbeda. Oleh karena itu, sebelum membuka posisi short, sebaiknya periksa ketentuan CFD tertentu daripada hanya melihat potensi pergerakan harga.

CFD Long dan Short: Bagaimana Hasil Transaksi Berubah

Perbedaan antara posisi long dan short adalah arah pergerakan harga yang diperlukan.

Untuk posisi long:

harga naik → trader memperoleh keuntungan;

harga turun → trader mengalami kerugian.

Untuk posisi short:

harga turun → trader memperoleh keuntungan;

harga naik → trader mengalami kerugian.

Dengan demikian, pergerakan harga yang sama akan menghasilkan hasil yang berlawanan untuk posisi long dan short.

Misalnya, harga CFD minyak naik dari 70 menjadi 75 $. Untuk posisi long, ini merupakan keuntungan; untuk posisi short, ini merupakan kerugian. Inilah perbedaan antara posisi long dan short CFD: yang pertama dibuka dengan mengantisipasi kenaikan, yang kedua dengan mengantisipasi penurunan.

Namun, memprediksi arah saja tidak cukup: pergerakan harga juga harus menutupi spread, komisi, dan biaya lainnya.

Leverage dan Posisi Short

Leverage sering digunakan dalam trading CFD. Ini berarti bahwa untuk membuka transaksi, tidak perlu memiliki seluruh nilainya di akun: cukup menyetorkan sebagian dari jumlah tersebut — margin.

Misalkan sebuah posisi bernilai 10 000 $, dan margin yang diperlukan adalah 1 000 $. Jika harga berubah sebesar 1%, hasil transaksi akan menjadi sekitar 100 $ sebelum biaya.

Untuk posisi long, kenaikan harga sebesar 1% akan menghasilkan keuntungan, sedangkan penurunan akan menyebabkan kerugian. Untuk posisi short, berlaku sebaliknya.

Leverage memperbesar keuntungan maupun kerugian. Jika harga bergerak melawan posisi sebesar 5%, kerugian akan menjadi sekitar 500 $. Jika jumlah ekuitas dalam akun jauh lebih kecil, pergerakan tersebut dapat secara signifikan menurunkan level margin.

Misalkan trader membuka posisi short senilai 10 000 $, dengan memperkirakan penurunan. Namun, harga naik sebesar 3%. Kerugian pada posisi tersebut akan menjadi sekitar 300 $ sebelum biaya. Jika akun memiliki 1 000 $ dana milik trader sendiri, kerugian sebesar 300 $ sudah akan berdampak signifikan pada akun, meskipun aset itu sendiri hanya naik sebesar 3%. Jika kerugian terus meningkat, jumlah dana bebas akan terus berkurang. Broker kemudian dapat meminta trader menyetorkan dana tambahan atau mulai menutup posisi secara otomatis.

Oleh karena itu, ketika menggunakan leverage, sangat penting untuk tidak meningkatkan ukuran posisi secara berlebihan.

Mengapa Posisi Short Memerlukan Perhatian Khusus terhadap Risiko

Baik posisi long maupun short dapat menghasilkan kerugian jika pasar bergerak berlawanan dengan perkiraan, tetapi penurunan dan kenaikan harga memiliki batas yang berbeda.

Jika kita berbicara tentang saham senilai 100 $, harganya tidak dapat turun di bawah nol. Dengan kata lain, tanpa memperhitungkan leverage, penurunan maksimum adalah 100%.

Namun, tidak ada batas atas seperti itu. Harganya dapat naik dari 100 menjadi 150 $, 200 $, 300 $, dan lebih tinggi. Oleh karena itu, seiring kenaikan harga, kerugian pada posisi short juga dapat meningkat.

Misalnya, posisi short dibuka pada 100 $. Harga naik menjadi 120 $ — kerugian sudah mencapai 20 $ per unit. Harga mencapai 150 $ — kerugian sudah mencapai 50 $. Semakin besar volume transaksi, semakin kuat dampaknya terhadap akun.

Dalam praktiknya, broker belum tentu membiarkan kerugian meningkat tanpa batas: jika dana menjadi tidak mencukupi, posisi dapat mulai ditutup secara otomatis. Namun, risiko kerugian besar tetap ada, terutama selama volatilitas tinggi dan gap harga.

Kapan Risiko Meningkat Sangat Tajam

Terkadang harga berubah tajam — dalam beberapa menit atau bahkan detik. Hal ini terjadi, misalnya:

  • setelah laporan laba perusahaan dirilis;
  • ketika data ekonomi penting dipublikasikan;
  • setelah keputusan bank sentral;
  • di tengah berita yang tidak terduga;
  • selama pergerakan tajam di pasar komoditas;
  • setelah jeda perdagangan.

Untuk posisi long, penurunan harga yang tajam tidak menguntungkan; untuk posisi short, lonjakan harga ke atas yang sama tajamnya tidak menguntungkan.

Situasi tidak menyenangkan lainnya adalah gap harga: kuotasi baru langsung muncul jauh di atas atau di bawah kuotasi sebelumnya.

Misalnya, posisi short dibuka pada 100 $, dan Stop Loss ditetapkan pada 105 $. Namun, setelah berita penting dirilis, perdagangan langsung dilanjutkan pada 110 $. Dalam hal ini, posisi dapat ditutup bukan pada 105 $, melainkan pada harga terdekat yang tersedia.

Dengan leverage, dampaknya lebih besar: bahkan pergerakan harga yang kecil dapat secara signifikan mengubah hasil keseluruhan posisi.

Stop Loss dan Manajemen Risiko

Untuk membatasi kerugian sejak awal, trader menggunakan Stop Loss — order yang terpicu ketika harga mencapai level tertentu.

Misalnya, trader membuka posisi long pada 100 $ dan memutuskan keluar dari transaksi jika harga turun menjadi 95 $. Mereka kemudian dapat menetapkan Stop Loss di dekat level tersebut.

Untuk posisi short, berlaku sebaliknya. Jika posisi short dibuka pada 100 $ dan harga mulai naik, Stop Loss dapat ditetapkan, misalnya, pada 105 $.

Hal ini memperjelas, bahkan sebelum memasuki transaksi, di mana harus keluar jika pasar bergerak ke arah yang salah.

Namun, Stop Loss tidak selalu dieksekusi tepat pada harga yang ditentukan. Jika pasar bergerak tajam atau terjadi gap harga, posisi dapat ditutup pada kuotasi terdekat yang tersedia. Oleh karena itu, Stop Loss saja tidak cukup: ukuran posisi juga penting. Selain itu, perlu mempertimbangkan:

  • volume transaksi;
  • jumlah dana bebas dalam akun;
  • leverage;
  • volatilitas instrumen;
  • seberapa jauh Stop Loss ditetapkan;
  • komisi dan biaya lainnya.

Semakin besar posisi dibandingkan dana dalam akun, semakin besar dampak bahkan pergerakan pasar yang kecil terhadap hasilnya.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Stop Loss dan order lainnya, lihat artikel CFD Order Types.

Apa yang Terjadi Jika Anda Tidak Menutup Posisi

Posisi long atau short dapat tetap terbuka sampai trader menutupnya sendiri atau posisi tersebut ditutup secara otomatis sesuai ketentuan broker. Selama posisi tetap terbuka, keuntungan atau kerugian terus berubah mengikuti harga. Selama harga bergerak ke arah yang diinginkan, keuntungan meningkat. Jika berbalik arah, keuntungan berkurang dan pada suatu saat dapat berubah menjadi kerugian.

Biaya tambahan dapat dikenakan untuk mempertahankan posisi hingga hari perdagangan berikutnya. Besarnya bergantung pada instrumen dan ketentuan broker. Oleh karena itu, meskipun harga bergerak ke arah yang diinginkan, biaya rollover dan pembiayaan dapat mengurangi sebagian keuntungan.

Semakin lama posisi tetap terbuka, semakin terasa biaya-biaya tersebut.

Long vs Short: Perbedaan Utama

CFD Long vs Short

Perbedaan utamanya sederhana: dengan posisi long, trader memperkirakan kenaikan; dengan posisi short, mereka memperkirakan penurunan. Selain itu, perhitungannya serupa, dan hasilnya bergantung pada selisih antara harga pembukaan dan penutupan, ukuran posisi, serta biaya trading.

Hal yang Perlu Diingat tentang Posisi Long dan Short CFD

CFD memungkinkan trader membuka posisi baik di pasar yang naik maupun turun. Jika trader memperkirakan kenaikan, mereka dapat membuka posisi long. Jika memperkirakan penurunan, mereka dapat membuka posisi short. Namun, kemampuan trading saat harga turun tidak membuat trading menjadi lebih mudah. Trader tetap perlu menilai pergerakan harga, memilih ukuran posisi, dan menentukan sejak awal berapa banyak yang siap mereka rugikan jika perkiraan ternyata salah.

Hasil akhir transaksi tidak hanya dipengaruhi oleh kuotasi, tetapi juga oleh:

Oleh karena itu, sebelum membuka transaksi, penting untuk mempertimbangkan bukan hanya arah harga, tetapi juga potensi kerugian dan seluruh biaya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa Itu Posisi Long dalam CFD?

Posisi long CFD adalah posisi yang dibuka dengan mengantisipasi kenaikan harga aset dasar. Jika harga naik, trader dapat memperoleh keuntungan; jika turun, mereka mengalami kerugian.

Apa Itu Posisi Short CFD?

Posisi short CFD adalah posisi yang dibuka dengan mengantisipasi penurunan harga. Posisi dibuka dengan menjual dan ditutup dengan membeli. Aset dasar itu sendiri tidak diperlukan untuk hal ini.

How Do You Open a Short Position Using CFDs?

Untuk membuka posisi short menggunakan CFD, trader membuka transaksi jual. Jika harga turun, posisi dapat ditutup pada harga yang lebih rendah sehingga menghasilkan keuntungan dari selisihnya setelah memperhitungkan biaya.

Bisakah Anda Memperoleh Keuntungan dari Pasar yang Turun dengan CFD?

Ya. Dengan posisi short, keuntungan dapat diperoleh dari penurunan harga. Jika harga naik, posisi menghasilkan kerugian.

Apa Perbedaan Short Selling CFD dan Short Selling Saham?

Dalam short selling tradisional, saham biasanya dipinjam dari broker, dijual, kemudian dibeli kembali untuk dikembalikan. Dengan CFD, trader tidak menerima sekuritas itu sendiri, melainkan membuka kontrak berdasarkan perubahan harganya.

Mana yang Lebih Berisiko: Long atau Short?

Kedua posisi dapat menyebabkan kerugian jika pasar bergerak berlawanan dengan perkiraan. Posisi short memiliki satu karakteristik khusus: tidak ada batas atas tetap untuk kenaikan harga. Pada saat yang sama, leverage meningkatkan risiko posisi long maupun short.

Bisakah Menggunakan Leverage dalam Posisi Short?

Ya. Leverage berlaku pada posisi long maupun short: leverage memungkinkan trader membuka posisi yang lebih besar daripada tanpa leverage, tetapi juga meningkatkan potensi keuntungan dan kemungkinan kerugian.

Bisakah Beralih dari Long ke Short?

Ya. Untuk mengubah arah, posisi saat ini ditutup dan posisi yang berlawanan dibuka. Cara kerjanya secara tepat dalam terminal trading bergantung pada jenis akun dan ketentuan broker.

Apa yang Terjadi Jika Posisi Dibiarkan Terbuka dalam Waktu Lama?

Hasilnya akan terus berubah mengikuti pasar. Selain itu, mempertahankan posisi hingga hari-hari perdagangan berikutnya dapat menimbulkan biaya tambahan jika diatur dalam ketentuan broker.