Margin Call vs Stop Out: apa yang terjadi ketika margin tidak mencukupi
Saat trading CFD, Anda tidak perlu menyetorkan seluruh nilai transaksi — hanya sebagian yang diperlukan. Berkat leverage, Anda dapat membuka posisi dengan nilai lebih besar daripada jumlah yang tersedia di akun.
Saat trading CFD, Anda tidak perlu menyetorkan seluruh nilai transaksi — hanya sebagian yang diperlukan. Berkat leverage, Anda dapat membuka posisi dengan nilai lebih besar daripada jumlah yang tersedia di akun.
Hal ini memungkinkan untuk membuka posisi besar bahkan dengan akun yang relatif kecil. Namun, semakin besar ukuran transaksi dibandingkan deposit, semakin besar dampak setiap pergerakan harga terhadap akun. Jika pasar bergerak melawan trader, kerugian meningkat dan jumlah dana bebas menjadi semakin kecil.
Pada titik tertentu, akun dapat mencapai Margin Call, dan jika kerugian terus meningkat — Stop Out. Istilah-istilah ini sering digunakan bersama, sehingga mudah tertukar. Namun, keduanya bekerja secara berbeda: Margin Call menunjukkan bahwa hampir tidak ada dana bebas yang tersisa, sedangkan Stop Out sudah mengakibatkan penutupan posisi secara otomatis.
Mari kita lihat apa itu margin, bagaimana free margin berbeda dari used margin, bagaimana margin level dihitung, dan apa yang terjadi pada akun ketika dana menjadi tidak mencukupi.
Apa Itu Margin
Margin adalah bagian dari uang di akun yang diperlukan untuk membuka dan mempertahankan posisi dengan leverage.
Bayangkan seorang trader ingin membuka posisi senilai 10 000 $, tetapi menggunakan leverage 1:10. Trader tidak perlu memiliki seluruh 10 000 $ di akun; transaksi tersebut akan membutuhkan sekitar 1000 $ dari dananya sendiri.
1000 $ tersebut akan menjadi margin.
Penting: margin bukan komisi broker dan bukan biaya untuk transaksi. Uang tersebut tidak “menghilang” dari akun. Uang itu hanya terikat pada posisi terbuka.
Selama transaksi masih terbuka, jumlah tersebut tidak dapat digunakan secara bebas untuk operasi lain.
Jumlah margin bergantung pada beberapa faktor:
- ukuran posisi;
- leverage;
- instrumen trading;
- jenis akun;
- persyaratan broker tertentu.
Misalnya, persyaratan untuk pasangan mata uang dan indeks saham dapat berbeda. Terkadang broker meningkatkan persyaratan margin menjelang berita penting atau selama periode volatilitas tinggi.
Oleh karena itu, nilai leverage saja tidak cukup — penting juga untuk memeriksa ketentuan untuk instrumen tertentu.
Kami menjelaskan secara lebih rinci cara kerja CFD secara umum dalam artikel “Apa Itu Trading CFD dan Bagaimana Contract for Difference Bekerja”.
Balance dan Account Equity Bukan Hal yang Sama
Di sini penting untuk tidak mencampuradukkan dua indikator: balance dan account equity saat ini.
Balance hanya memperhitungkan transaksi yang telah selesai.
Misalkan seorang trader menyetor 1000 $ dan belum menutup apa pun. Balance tetap 1000 $. Namun bayangkan saat ini ada posisi terbuka yang merugi sebesar −300 $. Balance akan tetap 1000 $, karena transaksi belum ditutup. Pada saat yang sama, nilai akun saat ini sudah lebih rendah — 700 $.
Indikator ini disebut Equity — nilai akun saat ini dengan memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari transaksi terbuka.
Jadi:
Account equity = balance + keuntungan saat ini − kerugian saat ini
Jika posisi terbuka menunjukkan +200 $, dengan balance 1000 $, account equity akan menjadi 1200 $.
Jika posisi menunjukkan −300 $ — maka 700 $.
Equity-lah yang digunakan untuk menghitung margin level. Margin Call dan Stop Out tidak bergantung pada apa yang ditampilkan di baris “Balance”, tetapi pada kondisi akun saat ini, termasuk transaksi terbuka.
Karena itu, balance mungkin terlihat normal bahkan ketika akun sudah mendekati level margin kritis.
Used Margin dan Free Margin
Dua indikator lain juga berkaitan dengan margin.
Used Margin adalah bagian dari uang yang sudah terikat pada posisi terbuka.
Misalnya, seorang trader memiliki tiga transaksi:
- yang pertama membutuhkan margin 200 $;
- yang kedua — 150 $;
- yang ketiga — 250 $.
Total used margin adalah:
200 + 150 + 250 = 600 $
Uang ini diperlukan untuk mempertahankan posisi saat ini.
Free Margin adalah uang yang saat ini tidak terikat pada posisi terbuka.
Dihitung sebagai berikut:
Free Margin = account equity − used margin
Bayangkan:
- balance — 1500 $;
- kerugian saat ini — 300 $;
- account equity — 1200 $;
- used margin — 600 $.
Maka:
Free Margin = 1200 − 600 = 600 $
600 $ tersebut masih bebas.
Dana itu dapat digunakan untuk transaksi baru, dan juga berfungsi sebagai cadangan jika terjadi kerugian.
Semakin kecil free margin, semakin cepat kerugian lebih lanjut dapat menyebabkan Margin Call.
Mengapa Free Margin Bisa Cepat Habis
Di pasar yang tenang, free margin sebesar 500 atau 600 $ mungkin tampak seperti cadangan yang besar. Namun semuanya bergantung pada ukuran posisi terbuka.
Bayangkan dua akun.
Keduanya memiliki free margin sebesar 500 $.
Akun pertama memiliki posisi terbuka sebesar 1000 $.
Akun kedua — 20 000 $.
Free margin sama, tetapi pergerakan harga yang sama akan memengaruhi akun secara berbeda:
- dalam kasus pertama — sekitar 10 $;
- dalam kasus kedua — sekitar 200 $.
Pada akun kedua, free margin akan berkurang jauh lebih cepat.
Oleh karena itu, melihat free margin saja tidak cukup. Free margin harus dipertimbangkan bersama dengan ukuran posisi dan margin level.
Apa Itu Margin Level
Margin Level menunjukkan rasio nilai akun saat ini terhadap margin yang terikat pada posisi terbuka.
Rumus:
Margin Level = account equity / used margin × 100%
Misalnya:
- account equity — 1000 $;
- used margin — 400 $.
Hasilnya:
1000 / 400 × 100% = 250%
Artinya, untuk setiap 1 $ used margin, terdapat 2.5 $ nilai akun saat ini.
Semakin tinggi margin level, semakin jauh akun dari Margin Call dan Stop Out.
Jika transaksi bergerak ke posisi rugi, account equity menurun. Used margin dapat tetap tidak berubah. Oleh karena itu, margin level mulai turun.
Misalnya:
Margin level-lah yang menunjukkan seberapa dekat akun dengan Margin Call atau Stop Out.
Mengapa Anda Tidak Boleh Hanya Mengandalkan Balance
Hanya mengandalkan balance adalah kesalahan umum di kalangan pemula.
Misalkan terminal menunjukkan:
- balance — 2000 $;
- kerugian saat ini — 1200 $.
Berdasarkan balance, mungkin tampak bahwa masih ada 2000 $ di akun, tetapi untuk perhitungan margin level, yang penting bukan lagi 2000 $, melainkan 800 $:
2000 − 1 200 = 800 $
Jika used margin sebesar 600 $, maka margin level adalah:
800 / 600 × 100% = 133%
Jadi akun mungkin sudah cukup dekat dengan Margin Call, meskipun balance masih terlihat besar.
Oleh karena itu, saat trading dengan leverage, lebih baik melihat beberapa indikator sekaligus: balance, keuntungan atau kerugian saat ini, free margin, dan margin level.
Apa Itu Margin Call
Margin Call berarti terlalu sedikit uang yang tersisa untuk mempertahankan posisi terbuka.
Istilah ini berasal dari masa ketika broker benar-benar dapat menelepon klien dan meminta mereka menyetor dana tambahan. Dari sinilah kata Call — “panggilan” — berasal. Dalam trading online modern, biasanya tidak ada yang menelepon. Saat ini, Margin Call umumnya berarti peringatan di terminal atau pembatasan untuk membuka transaksi baru.
Misalnya, broker menetapkan level Margin Call pada 100%.
Jika:
- account equity — 400 $;
- used margin — 400 $,
maka:
400 / 400 × 100% = 100%
Free margin dalam kasus ini adalah nol:
400 − 400 = 0 $
Artinya tidak ada free margin yang tersisa. Jika pasar terus bergerak melawan trader, margin level akan terus turun.
Apa yang Terjadi Setelah Margin Call
Setelah Margin Call, posisi tidak selalu langsung ditutup. Apa yang terjadi selanjutnya bergantung pada ketentuan broker:
- muncul peringatan;
- mungkin menjadi tidak mungkin untuk membuka posisi baru;
- beberapa operasi mungkin dibatasi;
- trader mungkin dapat menutup sebagian transaksi;
- akun dapat didanai untuk meningkatkan cadangan margin.
Jika pasar berbalik mendukung trader, kerugian berkurang dan margin level naik kembali.
Namun hanya mengandalkan pembalikan harga adalah hal yang berisiko. Jika pasar terus bergerak melawan posisi terbuka, margin level turun lebih lanjut dan akun mendekati Stop Out.
Bisakah Anda Pulih dari Margin Call
Ya. Bayangkan margin level turun menjadi 100%, sementara Stop Out ditetapkan pada 50%. Margin level dapat dipulihkan dengan beberapa cara.
Misalnya, trader dapat menutup sebagian posisi. Maka used margin akan berkurang.
Misalkan:
- account equity — 400 $;
- used margin — 400 $;
- margin level — 100%.
Setelah menutup satu transaksi, used margin turun menjadi 250 $.
Maka:
400 / 250 × 100% = 160%
Margin level telah pulih.
Pilihan lain adalah mendanai akun.
Jika 300 $ ditambahkan, account equity akan meningkat menjadi 700 $:
700 / 400 × 100% = 175%
Margin level juga dapat pulih dengan sendirinya jika pasar berbalik dan kerugian berkurang. Namun semuanya bergantung pada pergerakan harga, sehingga sekadar menunggu pasar berbalik bukan metode manajemen risiko.
Apa Itu Stop Out
Stop Out terjadi ketika margin level turun ke ambang kritis dan broker mulai menutup posisi secara paksa.
Jika Margin Call masih memberi trader waktu untuk bereaksi, pada Stop Out sistem akan turun tangan secara otomatis.
Bayangkan:
- Stop Out — 50%;
- account equity — 200 $;
- used margin — 400 $.
Maka:
200 / 400 × 100% = 50%
Margin level turun ke level Stop Out — broker mulai menutup posisi secara otomatis. Hal ini melepaskan sebagian margin dan mengurangi beban pada akun.
Apa yang Terjadi pada Akun Saat Stop Out
Misalkan seorang trader memiliki beberapa posisi terbuka.
Used margin pada posisi tersebut adalah 400 $.
Account equity turun menjadi 200 $.
Margin level:
200 / 400 × 100% = 50%
Stop Out terpicu. Broker menutup salah satu posisi. Setelah itu, used margin turun, misalnya, menjadi 250 $.
Sekarang:
200 / 250 × 100% = 80%
Margin level kembali berada di atas Stop Out. Penutupan otomatis dapat berhenti pada titik ini. Namun, jika pasar terus bergerak melawan posisi yang tersisa dan account equity kembali turun, Stop Out dapat terpicu sekali lagi.
Akibatnya, broker dapat menutup bukan satu, melainkan beberapa transaksi.
Posisi Mana yang Ditutup Terlebih Dahulu
Tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua broker.
Beberapa broker menutup posisi dengan kerugian terbesar terlebih dahulu.
Yang lain menutup posisi yang melepaskan margin lebih banyak.
Dalam beberapa kasus, urutannya bergantung pada aturan platform trading.
Oleh karena itu, lebih baik memeriksa ketentuan broker sebelumnya. Anda tidak boleh berasumsi bahwa sistem pasti akan mempertahankan posisi yang “paling menjanjikan” atau menutup tepat transaksi yang ingin ditutup trader terlebih dahulu.
Stop Out bekerja secara otomatis dan tidak mempertimbangkan ide trading trader.
Margin Call vs Stop Out: Apa Perbedaannya
Kedua peristiwa terkait dengan margin yang tidak mencukupi, tetapi terjadi pada tahap yang berbeda.
Dalam istilah yang sangat sederhana:
Margin Call adalah peringatan. Stop Out sudah merupakan tindakan.
Pertama, akun mendekati level kritis. Jika kerugian terus meningkat, sistem mulai menutup posisi secara otomatis.
Contoh: Bagaimana Margin Level Turun dari 250% hingga Stop Out
Mari kita lihat satu contoh bagaimana akun berubah. Trader memiliki:
- balance — 1000 $;
- used margin — 400 $;
- Margin Call — 100%;
- Stop Out — 50%.
Untuk menyederhanakan, bayangkan trader tidak membuka transaksi baru dan used margin tetap tidak berubah hingga Stop Out.
Langkah 1. Tidak Ada Kerugian
- Account equity: 1000 $
- Free margin: 1000 − 400 = 600 $
- Margin level: 1000 / 400 × 100% = 250%
Margin Call masih jauh.
Langkah 2. Kerugian Meningkat menjadi 200 $
- Account equity: 800 $
- Free margin: 800 − 400 = 400 $
- Margin level: 800 / 400 × 100% = 200%
Akun masih jauh dari level kritis.
Langkah 3. Kerugian Meningkat menjadi 400 $
- Account equity: 600 $
- Free margin: 600 − 400 = 200 $
- Margin level: 600 / 400 × 100% = 150%
Masih tersisa 200 $ free margin.
Langkah 4. Kerugian Meningkat menjadi 600 $
- Account equity: 400 $
- Free margin: 400 − 400 = 0 $
- Margin level: 400 / 400 × 100% = 100%
Dalam contoh kita, ini adalah level Margin Call.
Langkah 5. Kerugian Meningkat menjadi 800 $
- Account equity: 200 $
- Margin level: 200 / 400 × 100% = 50%
Pada level ini, Stop Out terpicu dan broker mulai menutup posisi secara paksa.
Penting: level 100% dan 50% hanya digunakan sebagai contoh. Broker sebenarnya dapat menggunakan level yang berbeda.
Apa Itu Margin requirements in CFD trading
Margin requirements in CFD trading menentukan berapa banyak uang yang diperlukan untuk membuka dan mempertahankan posisi.
Persyaratan tersebut dapat mencakup:
- jumlah margin yang diperlukan;
- leverage maksimum;
- level Margin Call;
- level Stop Out;
- persyaratan terpisah untuk instrumen yang berbeda;
- persyaratan yang lebih tinggi selama periode tertentu.
Misalnya, broker dapat menawarkan leverage yang lebih tinggi untuk satu pasangan mata uang dan leverage lebih rendah untuk saham atau cryptocurrency. Persyaratan dapat berbeda karena instrumen yang berbeda memiliki tingkat risiko dan volatilitas yang berbeda.
Semakin tajam harga dapat bergerak, semakin besar cadangan dana yang mungkin diperlukan. Oleh karena itu, sebelum membuka transaksi, sebaiknya tidak hanya melihat leverage yang tersedia, tetapi juga persyaratan margin untuk instrumen tertentu.
Bisakah Broker Mengubah Persyaratan Margin
Ya, hal ini mungkin terjadi.
Misalnya, menjelang rilis statistik penting, pemilu, pertemuan bank sentral, atau peristiwa lain yang dapat meningkatkan volatilitas, broker dapat menaikkan persyaratan margin.
Bagi trader, ini berarti posisi yang sama mungkin memerlukan margin lebih besar. Misalkan sebelumnya posisi tersebut mengikat 300 $, tetapi setelah kondisi berubah — 500 $. Meskipun harga instrumen tidak berubah, free margin akan menurun dan margin level akan turun.
Oleh karena itu, kondisi akun sebaiknya diperiksa bukan hanya sekali saat pendaftaran. Kami menjelaskan lebih rinci bagaimana broker CFD bekerja dalam artikel “Bagaimana Model Bisnis Broker CFD Bekerja”.
Bagaimana Leverage Membawa Margin Call Lebih Dekat
Leverage itu sendiri tidak menyebabkan kerugian, tetapi memungkinkan posisi yang lebih besar untuk dibuka.
Namun semakin besar posisi, semakin kuat dampak setiap pergerakan harga terhadap akun.
Misalkan dua trader masing-masing memiliki 1000 $.
- Yang pertama membuka posisi sebesar 1000 $. Yang kedua, menggunakan leverage — 10 000 $.
- Harga turun 1%.
- Yang pertama kehilangan sekitar 10 $. Yang kedua — sekitar 100 $.
Harga berubah dengan jumlah yang sama, tetapi dalam kasus kedua kerugiannya sepuluh kali lebih besar. Jika harga turun lagi 2–3%, perbedaannya menjadi semakin jelas.
Oleh karena itu, risiko tidak hanya bergantung pada ukuran leverage, tetapi juga pada volume posisi relatif terhadap modal.
Kami membahas mekanisme ini secara lebih rinci dalam artikel “Leverage dan Volatilitas: Mengapa Trader Kehilangan Deposit Mereka”.
Mengapa Margin Call Bisa Terjadi Lebih Cepat dari yang Diperkirakan
Trader sering menilai risiko hanya berdasarkan satu posisi. Misalnya: “Bahkan jika harga turun 2%, saya hanya akan kehilangan 100 $.” Namun mungkin ada beberapa transaksi terbuka di akun pada saat yang sama. Jika transaksi tersebut berkorelasi, kerugian dapat muncul pada semuanya sekaligus.
Misalnya, seorang trader secara bersamaan membuka posisi pada minyak, saham perusahaan minyak, dan mata uang negara yang sangat bergantung pada ekspor minyak.
Instrumennya berbeda, tetapi berita yang sama dapat memengaruhi semuanya secara bersamaan. Akibatnya, free margin menyusut jauh lebih cepat dari yang diperkirakan trader.
Apa Lagi yang Mempercepat Penurunan Margin Level
Margin level dapat turun lebih cepat karena alasan lain juga.
Volatilitas tinggi. Semakin cepat harga berubah, semakin cepat nilai akun juga dapat berubah.
Beberapa posisi sekaligus. Masing-masing membutuhkan margin dan dapat menghasilkan kerugian.
Transaksi berkorelasi. Transaksi tersebut mungkin terlihat berbeda, tetapi bereaksi terhadap berita yang sama.
Menambah posisi yang merugi. Jika trader terus meningkatkan ukuran transaksi yang sudah berada dalam posisi rugi, used margin meningkat tepat pada saat account equity menurun.
Peningkatan persyaratan margin oleh broker. Hal ini juga dapat mengurangi cadangan free margin.
Bagaimana Mengurangi Probabilitas Stop Out
Stop Out tidak dapat sepenuhnya dihilangkan, tetapi probabilitasnya dapat dikurangi.
Pertahankan cadangan free margin. Anda tidak boleh mengikat hampir seluruh akun pada posisi terbuka.
Jangan membuka posisi yang terlalu besar. Volume maksimum yang tersedia adalah batas teknis, bukan rekomendasi.
Perhitungkan semua transaksi terbuka. Bahkan posisi kecil jika digabungkan dapat memberikan beban besar pada akun.
Jangan lupakan instrumen yang berkorelasi. Beberapa transaksi berbeda dapat bergerak ke posisi rugi secara bersamaan karena satu berita atau peristiwa.
Batasi potensi kerugian terlebih dahulu. Stop Loss membantu membatasi kerugian, meskipun selama pergerakan harga yang tajam, harga eksekusi dapat berbeda dari yang ditentukan.
Pantau margin level. Balance saja tidak menunjukkan seberapa dekat akun dengan Margin Call.
Periksa ketentuan broker. Terutama level Margin Call dan Stop Out, serta persyaratan untuk instrumen tertentu.
Pertimbangkan berita. Volatilitas dapat meningkat tajam sebelum peristiwa penting.
Apakah Anda Perlu Mendanai Akun Setelah Margin Call
Tidak selalu.
Pendanaan hanyalah salah satu opsi. Ukuran posisi dapat dikurangi dengan menutup sebagian transaksi. Hal ini akan mengurangi used margin. Terkadang ini memiliki dampak lebih besar pada margin level daripada deposit akun kecil.
Namun yang paling penting adalah tidak menganggap pendanaan sebagai cara otomatis untuk “menyelamatkan” posisi yang merugi.
Jika masalah muncul karena ukuran transaksi terlalu besar, deposit tambahan hanya akan meningkatkan cadangan dana, tetapi tidak menyelesaikan masalah posisi yang terlalu besar.
Bisakah Stop Out Menutup Semua Posisi
Ya, jika setelah sebagian posisi ditutup, margin level masih tetap terlalu rendah. Namun Stop Out tidak selalu mengurangi akun menjadi nol: setelah penutupan paksa transaksi, sejumlah uang mungkin masih tersisa di dalamnya. Jumlah akhir bergantung pada ukuran kerugian, pergerakan harga, harga eksekusi, dan ketentuan broker.
Selama gap harga yang tajam atau volatilitas yang sangat tinggi, jumlah akhir dapat berbeda dari apa yang dilihat trader pada saat Stop Out terpicu.
Poin Utama
Margin Call dan Stop Out terjadi karena alasan yang sama: margin level menjadi terlalu rendah.
Margin Call memperingatkan bahwa cadangan hampir habis.
Stop Out berarti broker sudah mulai menutup posisi secara otomatis.
Untuk memahami seberapa dekat akun dengan Margin Call atau Stop Out, Anda perlu memantau margin level.
Margin Level = account equity / used margin × 100%
Semakin besar total volume posisi relatif terhadap modal, semakin cepat kerugian dapat menyebabkan pertama-tama Margin Call dan kemudian Stop Out.
FAQ
Apa Itu Margin Call in CFD Trading?
Margin Call dalam trading CFD adalah saat margin level turun ke nilai yang ditetapkan oleh broker.
Biasanya, ini berarti hanya sedikit dana bebas yang tersisa di akun.
Apa Itu Stop Out in CFD Trading?
Stop Out terpicu ketika dana di akun tidak lagi cukup untuk mempertahankan posisi terbuka. Broker mulai menutup transaksi secara otomatis untuk mengurangi beban pada akun.
Apa Perbedaan Antara Margin Call dan Stop Out?
Margin Call memberikan sinyal kepada trader bahwa cadangan dana hampir habis. Stop Out berarti sistem sudah turun tangan dan secara paksa mengurangi posisi terbuka.
Pada Level Berapa Margin Call Terjadi?
Tidak ada satu nilai yang sama.
Pada satu broker mungkin 100%, pada broker lain — 80%, 70%, atau level lain. Anda perlu memeriksa ketentuan akun tertentu.
Pada Level Berapa Stop Out Terjadi?
Ini juga bergantung pada broker. Misalnya, Stop Out dapat ditetapkan pada 50%, 30%, atau level lain.
Bisakah Margin Call Terjadi Jika Masih Ada Uang di Balance?
Ya.
Untuk menghitung margin level, yang penting bukan hanya balance, tetapi juga hasil saat ini dari posisi terbuka.
Balance mungkin tetap di 1000 $, sementara account equity, dengan memperhitungkan kerugian saat ini, sudah turun menjadi 400 $.
Bisakah Anda Mendapat Margin Call Tanpa Stop Out?
Ya.
Jika trader menutup sebagian posisi, mendanai akun, atau pasar berbalik mendukung mereka, margin level dapat pulih.
Maka Stop Out tidak akan terjadi.
Apa yang Terjadi pada Posisi Saat Stop Out?
Broker mulai menutupnya secara otomatis.
Setelah setiap transaksi ditutup, used margin menurun. Jika margin level pulih, sistem dapat berhenti. Jika tidak, posisi berikutnya dapat ditutup.
Posisi Mana yang Ditutup Pertama Saat Stop Out?
Hal ini bergantung pada broker dan platform trading.
Tidak ada aturan universal bahwa transaksi paling merugi atau transaksi terbesar selalu ditutup terlebih dahulu.
Bisakah Stop Out Dihindari?
Hal ini tidak dapat dijamin, tetapi risikonya dapat dikurangi.
Untuk melakukannya, penting untuk mempertahankan cadangan free margin, menghindari membebani akun dengan posisi besar, menggunakan leverage dengan hati-hati, dan membatasi potensi kerugian terlebih dahulu.
Apa Itu Margin requirements in CFD trading?
Ini adalah aturan broker yang menentukan berapa banyak uang yang diperlukan untuk membuka dan mempertahankan posisi.
Aturan tersebut dapat mencakup jumlah margin yang diperlukan, leverage maksimum, level Margin Call dan Stop Out, serta ketentuan terpisah untuk instrumen yang berbeda.
Bisakah Broker Mengubah Persyaratan Margin?
Ya.
Misalnya, persyaratan dapat meningkat menjelang berita penting atau selama periode volatilitas tinggi. Dalam kasus tersebut, posisi yang sudah terbuka mungkin memerlukan margin lebih besar.
